Data Investor Asing di Pasar Dibuka Luas
Jakarta – Menyusul kebijakan yang dilakukan Direktorat Jenderal Pajak
dengan diperbolehkannya membuka akses data nasabah perbankan guna
menekan pelaku pengemplang pajak, rupaya semangat transparansi inilah
yang di ikuti pula oleh PT PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Dimana
perseroan berencana memperbaharui sistem papan perdagangan di pasar
modal. Salah satu yang akan diperbaharui terkait informasi transaksi
oleh investor asing.
Direktur Utama BEI, Tito Sulistio mengatakan, selama ini pelaku pasar memang bisa melihat berapa besar aksi jual atau pun beli yang dilakukan oleh investor asing. Akan tetapi asal usul investor asing yang melakukan transaksi belum bisa terlihat.”Sekarang itukan kalau dilihat itu cuma ada jumlah saham dan sebentar lagi kalau sudah ada bisa lihat itu transaksi dari negara mana, setiap hari setiap saat. Berapa Amerika, Eropa, sekuritas terbesar siapa, daerah mana. Nanti akan dibuka di sini dalam bentuk grafik,"ujarnya di Jakarta, Senin (13/3).
Dengan begitu, seluruh pelaku pasar bisa mengamati secara detil dari sekuritas dan negara mana investor asing yang sering melakukan transaksi. Sebab selama ini investor asing masih menjadi acuan bertransaksi di pasar modal.”Jadi benar-benar dilihat simulasi daripada perdagangan di bursa efek seperti apa. Bisa dilihat setiap saat, trennya bagaimana, sudah mulai net buy," imbuhnya.
Pembaharuan sistem informasi perdagangan tersebut diharapkan bisa diterapkan pada perdagangan berikutnya. Sebagai informasi, investor asing sudah lama mendominasi industri pasar modal sehingga setiap aksi geraknya indeks harga saham gabungan (IHSG) begitu rapuh terhadap aksi jual investor asing. Namun kini pihak PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengklaim, investor domestik di pasar modal menunjukkan hasil yang positif dan bahkan meningkat cukup signifikan pada tahun 2017, yakni dari 36% pada tahun-tahun sebelumnya menjadi 52%.”Peningkatan persentase investor domestik di pasar modal menunjukkan perkembangan cukup bagus. Pada tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 35% dan 65 lainnya dikuasai investor asing, namun sekarang sudah berbalik lebih banyak dikuasai investor domestik," kata Pjs Kepala Unit Pelayanan Pelanggan 2 KSEI, Abdul Azis Albakkar.
Untuk memacu bertumbuhnya investor domestik tersebut, kata Azis, KSEI bersama BEI dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes), termasuk di beberapa kampus di Kota Malang.
Soasialisasai ini, lanjutnya, diharapkan dapat memberikan informasi, khususnya bagi yang sudah menjadi nasabah pasar modal mengenai pentingnya pemantauan portofolio investasi secara langsung melalui fasiltas AKSes.”Fasilitas AKSes ini merupakan sarana transparansi informasi dan perlindungan investor, bahkan mampu menarik minat investor baru, termasuk dari kalangan mahasiswa yang sudah mulai ada ketertarikan sebagai investor pasar modal,"ujarnya.
Dirinya mengakui, saat ini secara nilai investasi belum besar. "Kami berkeyakinan dalam jangka waktu lima hingga 10 tahun ke depan atau saat mereka sudah bekerja, mereka akan menjadi investor pasar modal yang berkualitas dan benar-benar paham berinvestasi, sehingga akan mampu mendukung ketahanan Pasar Modal Indonesia," paparnya.
Direktur Utama BEI, Tito Sulistio mengatakan, selama ini pelaku pasar memang bisa melihat berapa besar aksi jual atau pun beli yang dilakukan oleh investor asing. Akan tetapi asal usul investor asing yang melakukan transaksi belum bisa terlihat.”Sekarang itukan kalau dilihat itu cuma ada jumlah saham dan sebentar lagi kalau sudah ada bisa lihat itu transaksi dari negara mana, setiap hari setiap saat. Berapa Amerika, Eropa, sekuritas terbesar siapa, daerah mana. Nanti akan dibuka di sini dalam bentuk grafik,"ujarnya di Jakarta, Senin (13/3).
Dengan begitu, seluruh pelaku pasar bisa mengamati secara detil dari sekuritas dan negara mana investor asing yang sering melakukan transaksi. Sebab selama ini investor asing masih menjadi acuan bertransaksi di pasar modal.”Jadi benar-benar dilihat simulasi daripada perdagangan di bursa efek seperti apa. Bisa dilihat setiap saat, trennya bagaimana, sudah mulai net buy," imbuhnya.
Pembaharuan sistem informasi perdagangan tersebut diharapkan bisa diterapkan pada perdagangan berikutnya. Sebagai informasi, investor asing sudah lama mendominasi industri pasar modal sehingga setiap aksi geraknya indeks harga saham gabungan (IHSG) begitu rapuh terhadap aksi jual investor asing. Namun kini pihak PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mengklaim, investor domestik di pasar modal menunjukkan hasil yang positif dan bahkan meningkat cukup signifikan pada tahun 2017, yakni dari 36% pada tahun-tahun sebelumnya menjadi 52%.”Peningkatan persentase investor domestik di pasar modal menunjukkan perkembangan cukup bagus. Pada tahun-tahun sebelumnya hanya sekitar 35% dan 65 lainnya dikuasai investor asing, namun sekarang sudah berbalik lebih banyak dikuasai investor domestik," kata Pjs Kepala Unit Pelayanan Pelanggan 2 KSEI, Abdul Azis Albakkar.
Untuk memacu bertumbuhnya investor domestik tersebut, kata Azis, KSEI bersama BEI dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait fasilitas Acuan Kepemilikan Sekuritas (AKSes), termasuk di beberapa kampus di Kota Malang.
Soasialisasai ini, lanjutnya, diharapkan dapat memberikan informasi, khususnya bagi yang sudah menjadi nasabah pasar modal mengenai pentingnya pemantauan portofolio investasi secara langsung melalui fasiltas AKSes.”Fasilitas AKSes ini merupakan sarana transparansi informasi dan perlindungan investor, bahkan mampu menarik minat investor baru, termasuk dari kalangan mahasiswa yang sudah mulai ada ketertarikan sebagai investor pasar modal,"ujarnya.
Dirinya mengakui, saat ini secara nilai investasi belum besar. "Kami berkeyakinan dalam jangka waktu lima hingga 10 tahun ke depan atau saat mereka sudah bekerja, mereka akan menjadi investor pasar modal yang berkualitas dan benar-benar paham berinvestasi, sehingga akan mampu mendukung ketahanan Pasar Modal Indonesia," paparnya.
Post a Comment